Mitologi berbagai peradaban sering menggambarkan dewa-dewa dengan kepribadian kompleks, termasuk sisi kelam dalam tindakannya. Misalnya, Zeus (Yunani) terkenal karena sifat asusilanya britannica.com, sementara Hades (Yunani) digambarkan bijaksana walau menguasai alam kematian en.wikipedia.org. Pada bagian berikut, kita membahas tujuh dewa mitologi populer dengan sisi gelap mereka, lengkap dengan latar cerita, konteks budaya, dan pesan moral yang dapat diambil.
Contents
- 1 Zeus (Yunani) – Raja Olympus yang Lewat Batas
- 2 Hades (Yunani) – Penguasa Alam Bawah Tanah
- 3 Kali (Hindu) – Dewi Waktu dan Penghancuran
- 4 Set (Mesir) – Dewa Kekacauan dan Pengkhianatan
- 5 Loki (Norse) – Si Penipu Pemicu Kekacauan
- 6 Ereshkigal (Mesopotamia) – Dewi Dunia Bawah
- 7 Susano-o (Jepang) – Dewa Badai yang Mengamuk
- 8 Penutup: Mengapa “Sisi Gelap” Para Dewa Patut Dibaca Serius
Zeus (Yunani) – Raja Olympus yang Lewat Batas
Zeus adalah pemimpin para dewa Yunani, namun sejumlah tradisi penceritaan menampilkan dirinya menyimpang dari peran penjaga tatanan. Dalam beberapa versi mitos, ia digambarkan menyalahgunakan posisi terhadap dewi maupun manusia fana—termasuk bentuk pemaksaan serta tipu daya (menyamar, mengubah wujud) untuk mendekati tokoh tertentu, seperti kisah Europa. Sisi lain yang kerap muncul adalah perselingkuhan dan penipuan, yang memicu kecemburuan serta konflik di Olympus.
Konteks & Pelajaran
Narasi-narasi ini kerap dibaca sebagai kritik terhadap ketimpangan kuasa: bahkan figur tertinggi pun dapat bertindak sewenang-wenang dan menimbulkan dampak berlapis bagi korban, keluarga, dan tatanan sosial. Bagi pembaca modern, pesan utamanya jelas—kekuasaan harus diikat akuntabilitas dan persetujuan; karisma atau jabatan tidak boleh menjadi pembenaran untuk melampaui batas etika.
- Pelajaran: Kekuasaan besar menuntut tanggung jawab. Perilaku sewenang-wenang—bahkan jika dibungkus “cinta” atau alasan menjaga wibawa—pada akhirnya melahirkan penderitaan dan ketidakadilan.
Hades (Yunani) – Penguasa Alam Bawah Tanah

Hades adalah dewa kematian dan alam bawah tanah dalam mitologi Yunani. Sering disangka jahat karena perannya, namun teks klasik menegaskan ia sebenarnya bersifat netral dan adilen.wikipedia.org. Hades menjaga alam kematian sesuai hukum kosmis; ia tenang dan jarang meninggalkan Kerajaan Orang Matien.wikipedia.org. Meskipun demikian, ia marah besar jika tatanan itu dilanggar: siapa pun yang mencoba mencuri jiwa orang mati atau menghindari kematian akan dihukum keras (contoh: Tantalus dan Sisyphus)en.wikipedia.org.
Salah satu cerita terkenal adalah penculikan Persephone. Hades membawa Persephone ke alam bawah untuk menjadi istrinya – sebuah tindakan yang seolah tanpa persetujuan, karena Zeus sendiri menganugerahkan Persephone kepadanyaen.wikipedia.org. Pada akhirnya Persephone membagi waktu antara dunia atas dan bawah, sehingga terjadi musim berganti.
Konteks & Pelajaran: Meskipun “dunia mati” sering dianggap negatif, mitologi menekankan pentingnya keseimbangan (kematian sebagai tahap alami). Hades bertugas menegakkan aturan alam tanpa biasen.wikipedia.org. Moral yang dapat diambil adalah menerima siklus hidup-mati sebagai kenyataan alamiah; kemarahan atau kekuatan sebanding dialamatkan kepada mereka yang menipu kematian atau mengganggu keseimbangan ituen.wikipedia.org.
-
Pelajaran: Kematian adalah bagian tak terelakkan dari kehidupan. Menegakkan keadilan alam (seperti Hades lakukan) mengajarkan kita menghormati hukum alam dan batas-batas etika.
Kali (Hindu) – Dewi Waktu dan Penghancuran

Kali adalah dewi penghancuran dalam mitologi Hindu. Ia muncul kala kejahatan mengancam para dewa. Legenda populer menceritakan saat demon Raktabija memiliki kekuatan aneh: setiap setetes darahnya yang tumpah memunculkan raksasa baruthegoddessgarden.com. Untuk menghentikan ini, Durga melahirkan Kali yang mengerikan: tubuhnya yang hitam legam melambangkan kekuatan waktu yang memakan segalanyathegoddessgarden.com. Kali pun melahap darah Raktabija hingga tidak tersisa dan kemudian berperang melumat raksasa lain. Ia begitu tak terkendali bahwa Shiva (suaminya) harus berbaring di bawah kakinya untuk menghentikan pembantaiannyathegoddessgarden.com. Melihat suaminya, Kali terkejut dan melumatkan lidahnya, lalu tenang kembali.
Ciri khas Kali – tengkorak dan pedang, bahasa tubuh marah – sering disalahtafsirkan sebagai kebrutalan semata. Padahal, dalam keyakinan Hindu, ia bertindak melindungi umat manusia dari kejahatan. Setelah mengalahkan musuh, ia tenang dan penuh rahmat kepada yang memujanya.
Konteks & Pelajaran: Kali mengajarkan bahwa kadang kehancuran total diperlukan untuk menghapus kejahatan semestathegoddessgarden.com. Namun kisahnya juga mengingatkan adanya batas: tanpa Shiva (simbul kasih sayang), ia tidak akan berhenti. Moral cerita ini adalah bahwa kekuatan destruktif pun harus diimbangi welas asih dan kendali diri.
-
Pelajaran: Kekuatan destruktif dapat melindungi kebaikan jika dikendalikan. Marah bukanlah jalan akhir; setelah mengatasi kejahatan, perlu ketenangan (simbol Shiva) untuk menciptakan kedamaian kembali.
Set (Mesir) – Dewa Kekacauan dan Pengkhianatan

Set adalah dewa badai, gurun, dan kekacauan dalam mitologi Mesir. Ia paling terkenal atas tindakan jahatnya: ia membunuh dan mengkhianati saudara kandungnya, Osirisen.wikipedia.org. Demi merebut takhta, Set menjebak Osiris ke dalam peti kayu panjang dan membuang jasadnya ke sungaien.wikipedia.org. Kejahatan ini menunjukkan sifat gelap Set sebagai simbol kekuatan tak terduga dan destruktif. Namun akhirnya, putra Osiris (Horus) bangkit dan mengalahkan Set dalam pertarungan panjang. Kemenangan Horus memulihkan maat (tatanan kosmik) yang sempat kacauen.wikipedia.org.
Mitos Osiris-Set sangat penting dalam kepercayaan Mesir karena melambangkan perjuangan antara kebaikan (Orde) dan kejahatan (Kekacauan). Set sendiri bukanlah jahat mutlak – dalam bentuk lain ia kadang membantu dewa lain – namun tindakan pengkhianatannya menempatkannya sebagai antagonis.
Konteks & Pelajaran: Cerita Set menekankan bahwa kekuatan alih-alih digunakan untuk tata alam, dapat membawa kerusakan besar. Pengkhianatan dalam keluarga (dewa) mengguncang stabilitas. Pelajaran moralnya, kembalikan keseimbangan dengan kebenaran (Horus), karena aksi jahat akan terbalas untuk mengembalikan harmonien.wikipedia.org.
-
Pelajaran: Kembalikan keadilan dan tatanan saat kekacauan muncul. Tindakan licik atau kejam (seperti pembunuhan Set) selalu memicu pertentangan, mengingatkan kita agar menegakkan keadilan demi keseimbangan bersama.
Loki (Norse) – Si Penipu Pemicu Kekacauan

Loki, dalam mitologi Nordik, adalah dewa penipu yang licik. Ia mahir berubah wujud (selalu berubah-ubah bentuk seperti salmon, kuda, bahkan wanita tua) dan kerap berbuat onar. Misalnya, Loki mengatur kematian Baldr (dewa paling disukai) dengan menjebak dewa lain melempar panah mistisen.wikipedia.org. Akibatnya, Baldr terbunuh dan Loki dihukum: ia diikat dengan usus putranya sendiri, dan seekor ular mendatangkan racun hingga Loki menderita terus menerusen.wikipedia.org.
Walau kadang berbuat baik untuk menolong para dewa, tindakan Loki cenderung sembrono dan egosentris. Akibat terbesarnya adalah dalam cerita Ragnarök, ketika ia membebaskan naga dan bersaudara serigala, sehingga menciptakan perang besar yang menghancurkan hampir seluruh dunia.
Konteks & Pelajaran: Loki menunjukkan bahwa tipudaya dan keegoisan bisa membawa bencana. Dalam kisahnya, setiap kelicikan Loki akhirnya membuat keseimbangan kosmik terganggu (Baldr mati, Ragnarök datang). Pesan moralnya adalah waspada terhadap pemecah kesetaraan; lelucon atau keserakahan semata dapat berujung malapetaka.
-
Pelajaran: Kelicikan punya konsekuensi. Perbuatan buruk sekecil apa pun (seperti penipuan atau menyebar keributan) bisa mengarah ke kehancuran besar. Jaga integritas karena penipuan hanya menimbulkan siksa (terutama pada diri sendiri).
Ereshkigal (Mesopotamia) – Dewi Dunia Bawah

Ereshkigal adalah ratu alam bawah tanah dalam mitologi Mesopotamia. Ia tidak dipuja sebagai sosok baik, melainkan penguasa kematian yang adil dan tanpa kompromien.wikipedia.org. Dalam kisah Inanna (dewi langit) turun ke dunia bawah, Ereshkigal bertindak selaku hakim tanpa belas kasihanen.wikipedia.org. Setiap lawan berbohong keadilannya. Ketika Inanna melewati tujuh gerbang, ia dipaksa menanggalkan segala kekuatannya dan kemudian dihukum mati oleh Ereshkigalen.wikipedia.org. Hanya usaha para dewa lain yang bisa membalikkannya. Cerita ini menekankan bahwa tak seorang pun (bahkan dewi besar) lolos dari hukum kematian.
Ereshkigal tidak digambarkan kejam tanpa alasan; tugasnya adalah menjaga keseimbangan antara hidup dan mati. Ia kadang tampak kejam (misalnya menolak keluar masuk dunia bawah tanpa aturan) tetapi juga dihormati sebagai sosok yang memastikan isipan berikutnya (roh) tidak melanggar yang semestinya.
Konteks & Pelajaran: Kisahnya, terutama dalam Inanna’s Descent, mengajarkan kebijaksanaan dan penghormatan terhadap siklus kehidupan dan kematianen.wikipedia.org. Ereshkigal bertindak tanpa prasangka—Inanna dihukum mati karena melewati batas yang telah ditetapkanen.wikipedia.org. Hikmahnya, manusia (dan dewa) perlu menghargai aturan alam semesta: keangkuhan dibayar mahal.
-
Pelajaran: Hormati siklus dan konsekuensi. Tidak ada yang kebal atas sebab-akibat; kesombongan atau melanggar aturan alam akan dihukum setimpal, mengingatkan kita untuk tetap rendah hati dan bertanggung jawab.
Susano-o (Jepang) – Dewa Badai yang Mengamuk

Susano-o-no-Mikoto adalah dewa laut, badai, dan panen dalam mitologi Jepang. Ia kakak Amaterasu (dewi matahari), namun sering kali digambarkan lepas kendali. Dalam satu legenda, Susano-o begitu murka setelah diuji pengabdian oleh Amaterasu hingga ia “merusak ladang padi Kakak, mengotori istananya, dan membunuh salah seorang dayangnya”en.wikipedia.org. Amaterasu yang marah lari bersembunyi, membuat dunia menjadi gelap gulita hingga akhirnya Susano-o diusir dari langit sebagai hukumanen.wikipedia.org.
Sisi gelap Susano-o adalah kemarahannya yang destruktif: ia mampu menimbulkan bencana alam (gempa, kekeringan) hanya karena emosinya meledaken.wikipedia.org. Namun ia juga sisi baiknya, misalnya membunuh naga Yamata-no-Orochi untuk menyelamatkan seorang putri (aset keberanian). Begitulah mitos Jepang sering menampilkan Susano-o sebagai sosok bipolar: pemarah namun pemberani.
Konteks & Pelajaran: Kisah Susano-o melambangkan bagaimana amarah yang tak terkendali merusak tatanan (ladang subur menjadi gersang). Akhirnya ia dihukum dan diasingkan sebagai pelajaran. Pesan moralnya adalah pentingnya mengendalikan emosi. Bahkan figur ilahi pun harus belajar pertimbangan; kemarahan yang terlalu besar akan mengganggu harmoni bersama.
-
Pelajaran: Kendalikan amarah Anda. Seperti Susano-o, kekuatan besar bisa menjadi bahaya bila tidak terkendali. Ketenangan (atau intervensi bijak seperti Amaterasu yang mencoba menengahi) diperlukan untuk memulihkan keseimbangan.
Penutup: Mengapa “Sisi Gelap” Para Dewa Patut Dibaca Serius
Membaca sisi gelap para dewa bukanlah menjelekkan tradisi, melainkan memahami bagaimana suatu budaya merumuskan etika, kuasa, dan keteraturan kosmos. Dari Zeus hingga Ereshkigal, mitos lintas peradaban menampilkan pola serupa: kuasa ilahi selalu menuntut harga—konsekuensi, tanggung jawab, dan kendali diri. Saat batas dilanggar (pengkhianatan, amarah, tipu daya, pemaksaan), lahirlah krisis yang hanya pulih lewat pengorbanan, pertobatan, atau pemulihan tatanan.
Bagi pembaca modern, pesannya nyata: Zeus memperingatkan bahwa kuasa yang disalahgunakan—sekalipun berbalut karisma—melukai yang terdekat; Hades dan Ereshkigal menegaskan penerimaan siklus alam; upaya menipu kematian atau melompati aturan justru memperburuk keadaan. Loki menunjukkan kecerdikan tanpa etika berujung bencana, Susano-o bahwa amarah tak terkendali merusak karya, Kali bahwa penghancuran kadang perlu namun harus ditimbang welas asih, dan Set bahwa iri serta perebutan kuasa menggerogoti keluarga dan negara.
Agar pembacaan kita tidak dangkal, coba dekati mitos dengan tiga lensa berikut:
-
Historis-ritual: tanya kapan dan untuk siapa kisah ini diceritakan. Penculikan Persephone, misalnya, bergerak bersama ritme musim dan ritus agraris; konflik Osiris-Set meneguhkan gagasan Mesir tentang maat (tatanan).
-
Struktural-naratif: identifikasi oposisi (tertib/chaos, hidup/mati, warga/asing) lalu lihat bagaimana kisah menegosiasikan ketegangan itu. Dewa “nakal” seperti Loki berfungsi sebagai pemicu perubahan yang mengekspos celah sistem.
-
Arketipal-psikologis: kenali pola batin manusia. Trickster (Loki), Bayangan/Shadow kekuasaan (Zeus/Set), Penguasa Gerbang (Hades/Ereshkigal), dan Wajah Mengerikan Ibu Agung (Kali) membantu kita menamai dorongan yang sering kita abaikan—agar bisa diakui, dikelola, bukan ditolak mentah-mentah.
Dengan kerangka ini, “sisi gelap” tidak berhenti pada sensasi, tetapi menjadi alat literasi budaya: kita belajar bagaimana komunitas menegosiasikan kekerasan, seksualitas, kematian, dan keadilan; bagaimana krisis dilalui; dan nilai apa yang ingin diwariskan. Inilah yang membedakan bacaan bermutu dari sekadar rangkuman tokoh: ada konteks, analisis, dan relevansi.
Untuk Pembaca & Pendidik: Pertanyaan Pemantik
-
Nilai apa yang dibela atau dikritik sebuah mitos ketika dewa melanggar batas? Siapa yang paling dirugikan?
-
Di titik mana kekuatan destruktif (Kali, badai Susano-o) berubah fungsi menjadi kekuatan pemulih?
-
Jika mitos adalah cermin, bagian diri mana yang Anda lihat pada Zeus, Loki, atau Set—dan bagaimana cara Anda menanganinya secara etis?
Catatan Akhir
Versi kisah dapat berbeda antara daerah, periode, dan sumber. Perbedaan itu bukan cacat, melainkan bukti hidupnya tradisi lisan dan tafsir. Karena itu, membaca mitos sebaiknya menjaga dua hal sekaligus: hormat pada sumber aslinya dan keberanian menafsir untuk konteks kini. Di sanalah mitologi tetap relevan—bukan sebagai museum cerita, melainkan peta moral yang menuntun kita mengelola kuasa, emosi, dan batas-batas kemanusiaan.




